Pegawai PA Limboto melakukan Shalat Ghaib untuk Almarhumah Ibunda dari Ketua PA Limboto

Innalilahi wainnailahi rojiun, telah meninggal dunia Ibunda dari Ketua Pengadilan Agama Limboto Drs. Muhammad Ridwan, S.H.,M.H pada hari Selasa Pukul 10:40 WIB di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Bertempat di mushola kantor Pengadilan Agama Limboto ba’da Dzuhur seluruh Pegawai karyawan(i) Pengadilan Agama Limboto melakukan Shalat Ghoib di Mushola Kantor sebagai bentuk untuk menyolatkan almarhumah. “ Mari kita bersama-sama melakukan Shalat Ghoib dan mengirimkan segenap doa agar amal ibadah almarhumah diterima disisi allah SWT” jelas Panitera PA Limboto Drs. Siswanto Supandi, S.H.,M.H. sebagai Imam Sholat.

Dalam hadist Abu Hurairah Radhiyallahu anhu :
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang ketika itu sedang berada di Madinah) pernah mengumumkan berita kematian an-Najâsyi (Ash-hamah) (raja Habasyah) kepada orang-orang pada hari kematiannya. (Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya saudara kalian telah meninggal dunia –dan dalam sebuah riwayat disebutkan : Pada hari ini, hamba Allah yang shalih telah meninggal dunia) (di luar daerah kalian) (karenanya, hendaklah kalian menshalatinya)”, (Mereka berkata : “Siapakah dia itu?” Beliau menjawab : “an-Najasyi”) (Beliau juga bersabda : “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian ini”). Perawi hadits ini pun bercerita : Maka Beliau berangkat ke tempat shalat (dan dalam sebuah riwayat disebutkan : Ke kuburan Baqi). (Setelah itu, Beliau maju dan mereka pun berbaris di belakang Beliau (dua barisan) (dia bercerita : “Maka kami pun membentuk shaff di belakang Beliau sebagaimana shaff untuk shalat jenazah dan kami pun menshalatkannya sebagaimana shalat yang dikerjakan atas seorang jenazah). (Dan tidaklah jenazah itu melainkan diletakkan di hadapan Beliau)” (Dia bercerita :“Maka kami bermakmum dan Beliau menshalatkannya). Seraya bertakbir atasnya sebanyak empat kali”. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (III/90,145,155 dan 157), Muslim (III/54), dan lafazh di atas miliknya. Juga Abu Dawud (II/68-69), an Nasa`i (I/265 dan 280), Ibnu Majah (I/467), al-Baihaqi (IV/49), ath-Thayalisi (2300), Ahmad (II/241, 280, 289, 348, 438, 439, 479,539) melalui beberapa jalan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. [Diambil dari Ahkam al-Jana’iz, hlm. 89]